Pages

Wednesday, 19 August 2015

PERJUANGAN DENGAN ETIKA AL-QUR’AN


IMG-20150816-WA0003
“Manusia adalah saudara manusia di kala saling
mencinta ataupun saling membenci”
Dewasa ini di beberapa belahan bumi, manusia saling berperang, membunuh, menyakiti yang lemah dan satu sama lain saling menjatuhkan walaupun mereka bersaudara. Di negeri-negeri yang beradab kaum-kaum lemah ditindas layaknya budak. Irak, Afghanistan, Somalia, bahkan palestina, negeri para nabi bernaung pun pertumpahan darah tak kunjung usai. Apa yang terjadi dengan manusia? Apakah manusia telah mengatasi keterbatasannya sehingga memutuskan untuk mandiri? Hadits riwayat Muslim yang di kutip diatas mengingatkan kita akan hal yang paling penting dari keberadaan manusia di bumi ini. Bahwa manusia tak mungkin dipisahkan dari manusia, justru ketika saling membenci terjadi.



Betapa sangat berharganya manusia di mata Allah, suatu barang ciptaan yang sungguh luar biasa kekuatannya untuk memelihara alam semesta. Memayu Hayuning Bawana memelihara alam semesta. Manusia adalah keagungan alam semesta, dimana Allah menciptakan dengan begitu sempurnanya. Dalam persatuan kasih sayang, manusia menunjukkan ketakwaan dan dari arena inilah manusia berlomba untuk memahami keterbatasannya., tak mungkin unggul-mengungguli. Jika hal ini terjadi, perpecahan akan merajalela. Suatu kehancuran yang tidak dapat diterima akal sehat.
Hal ini terjadi di hamparan Aqsha, dimana beribu jiwa melayang sia-sia. Di tindas para zionis bengis dengan segala macam taktik dan tipudaya. Muslim dengan sesama muslim adalah satu jiwa. Bagaimana hati kita tidak bergetar mendengar jerit, tangis dan rintihan kaum muslimin yang lain?. Mereka berjuang mempertahankan aqidah islam sedangkan kita terlena dengan kelezatan nafsu dunia. Kita yang merdeka, jangan hanya menikmati kemerdekaan dengan perbuatan yang sia-sia. Sedangkan saudara-saudara kita memperjuangkan kemerdekaan dengan terlunta-lunta.
Kemerdekaan adalah buah cinta dari suatu perjuangan. Mengapa tidak kita memperjuangkan cinta itu untuk palestina?. Apakah hati kita sudah tertutup dengan berrmacam-macam surga dunia?. Wahai engkau kaum muslimin yang dicintai Allah, kobarkanlah jiwa kemerdekaan untuk palestina, meski perjuangan yang kita lakukan hanyalah sebuah doa, namun hal itu berarti untuk saudara kita, Palestina. Mungkin syair ini dapat mewakilkan doa kita semua pejuang Indonesia, untuk jiwa suci rakyat Palestina.
Pendekar Allah
*Tuan tertawa di balik air mata kami
Berlayar diatas hamparan lautan darah !
Berpesta pora dalam harumnya jasad para syuhada
Tiada malu, tiada sungkan. Lagaknya diri, layaknya Tuhan.
* Bagaimana bisa kami menutup mata dan telinga?
Sedang pedih begitu dekat, melekat di tangis-tangis tiada sekat !
Entah berapa lagi tubuh yang hidupnya akan dirampas, demi juang yang tiada tuntas
*Duhai pendekar Allah
Dibelenggu agresi, kau tempuh dengan berani
Dengan semangat fii sabilillah yang berapi-api
Tak gentar kau hadapi tuan-tuan tak tahu diri
*Tuan, jangan terlena di lautan keringat kami
Jangan bangga diri di lautan tangis kami
Hati-hati dengan perisai emas kesabaran kami
Mendorong tuan terperosok pada jurang kehinaan diri
*Kala ribuan nyawa Muslim terkapar syahid: oleh musuh Allah yang bengis
Pembunuh yang gila kekuasaan: patutlah laku persis hewan
Tuan boleh membumbung tawa kepuasan
Tuan lupa RAJA langit punya keadilan yang nyata
Biarlah Sang RAJA angkat senjata tuk membela syuhada palestina
Perjuangan seorang muslim dunia di nanti para syuhada Palestina
Lantas, bagaimana para kaum muslimin harus berjuang sedangkan langkah terhalang oleh dahsyatnya lautan?. Seluruh kaum muslimin hendaknya berjuang sesuai dengan tata cara yang diungkapkan Allah di dalam Al-qur’an. Betapa pun besar semangat juang para kaum muslimin, tetap kaum muslimin jangan sampai dibelenggu oleh hawa nafsu yang besar sehingga kaum muslimin tak mampu menguasai dirinya hingga tumbang dengan pedangnya sendiri. Para kaum muslimin masih harus menempatkan dirinya di tangan Allah, menghormati hukum-hukum Allah dan menjalankan perintah Allah. Al-Qur’an mengajak manusia untuk melakukan etika islam yang dengan etika islam ketentraman dan kedamaian dunia bukanlah lagi mimpi untuk semua umat manusia. Allah memerintahkan manusia untuk berperang dengan adil dan paham akan etika perang. Muslim sejati tidak akan membiarkan keputusan atau tindakannya diwarnai oleh perasaan benci, amarah, dan membabi buta. Seorang muslimin harus memperlakukan dirinya sesuai Al-Qur’an berperilaku sabar dan terkendali. Kita tidak boleh lupa bahwa Allah menguji keimanan kita melalui kesulitan, kebahagiaan, kedamaian maupun peperangan. Hal yang terpenting adalah bagaimana manusia tetap dapat menguasai dirinya, bersyukur atas kehendak-NYA, dan berjuang dengan cara-cara yang di ridhai oleh-NYA. Jiwa rakyat Palestina adalah kita, jiwa kita adalah jiwa muslim Palestina. Kemerdekaan adalah cinta, dan kita perjuangkan cinta itu untuk rakyat Palestina. Aamiin Allahumma Aamiin.
Penulis: Anisa Maya Kholida
(Staff Departemen Muslimah LDK UKDM UPI 2015,
MahasiswaPkn 2014)

0 comments :

Post a Comment